BBM SUBSIDI LANGKA, NELAYAN KUALA TUNGKAL RESAH — DIDUGA PENGECER LEBIH DIUTAMAKAN
KUALA TUNGKAL, TANJUNG JABUNG BARAT — Keluhan terkait sulitnya memperoleh BBM bersubsidi kembali menjadi sorotan di kalangan nelayan Kuala Tungkal. Kondisi ini dinilai berpotensi membebani biaya operasional nelayan yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas melaut.
Sejumlah nelayan bahkan diduga berencana menggelar aksi demonstrasi sebagai bentuk kekecewaan terhadap kondisi distribusi BBM bersubsidi yang mereka rasakan di lapangan.
Melalui salah seorang pegawainya, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Ardiasyah, menyampaikan bahwa pihaknya menerima keluhan mengenai sulitnya nelayan mendapatkan BBM, khususnya di SPBU yang berada di sekitar Pelabuhan Roro.
“Keterangan para nelayan mengeluhkan kondisi di lapangan karena BBM di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar dinilai lebih sulit diperoleh, khususnya di pom bensin dekat Pelabuhan Roro. Sementara terdapat dugaan bahwa penjualan kepada pengecer lebih diutamakan, tentunya dengan harga lebih mahal,” ujarnya, Jumat (4/9/2026).
Persoalan tersebut menjadi perhatian serius karena apabila BBM bersubsidi yang seharusnya membantu masyarakat nelayan justru sulit diperoleh, nelayan terpaksa mencari BBM melalui pengecer dengan harga lebih tinggi.
Pertanyaannya, bagaimana sebenarnya pola distribusi BBM bersubsidi di lapangan? Apakah sudah benar-benar tepat sasaran? Dan jika benar terdapat dugaan pengecer lebih diutamakan, siapa yang melakukan pengawasan?
Dinas Perikanan Tanjung Jabung Barat disebut akan segera menggelar rapat untuk membahas persoalan tersebut dan mencari solusi agar kebutuhan BBM bersubsidi bagi nelayan dapat terpenuhi sesuai ketentuan.
“Dinas Perikanan akan segera mengadakan rapat guna mencari solusi terbaik bagi para nelayan agar mereka mendapatkan haknya terkait BBM bersubsidi,” tutupnya.
Nelayan berharap persoalan ini tidak berhenti sebatas rapat dan wacana. Mereka meminta pemerintah daerah bersama pihak terkait turun langsung mengevaluasi distribusi BBM di lapangan, memastikan penyaluran tepat sasaran, serta mencegah adanya pihak yang dirugikan. Sebab, bagi nelayan, BBM bukan sekadar kebutuhan biasa. BBM merupakan modal utama untuk melaut dan mencari nafkah.
Ketika BBM sulit diperoleh atau harus dibeli dengan harga lebih mahal, yang paling terdampak adalah nelayan kecil.
Hingga berita ini diterbitkan, dugaan terkait prioritas penjualan kepada pengecer serta rencana demonstrasi masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut kepada perwakilan nelayan, pihak SPBU, Pertamina, dan instansi terkait.
POJOKJAMBI.COM — Akurat • Tajam • Independen






