IPSI HARUS BERBENAH! Krisna Bayu Olympian Soroti Keselamatan Atlet, Desak Audit Independen dan Reformasi Pencak Silat
POJOKJAMBI.COM | NASIONAL — Persoalan keselamatan atlet pencak silat kembali menjadi perhatian. Melalui tulisan opini investigatif Seri II, Krisna Bayu Olympian menyuarakan pentingnya pembenahan menyeluruh terhadap tata kelola pertandingan dan sistem perlindungan atlet di Indonesia.
Dalam tulisannya, Krisna mempertanyakan siapa yang bertanggung jawab memastikan keselamatan atlet ketika mengikuti pertandingan pencak silat, khususnya setelah munculnya berbagai peristiwa cedera serius hingga kematian atlet yang perlu menjadi bahan evaluasi bersama.
Menurutnya, dunia pencak silat tidak boleh hanya berorientasi pada prestasi dan perolehan medali. Keselamatan atlet harus menjadi prioritas utama dalam setiap penyelenggaraan pertandingan.
Desak PB IPSI Bentuk Tim Investigasi Independen
Krisna Bayu mendorong Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) membentuk tim investigasi independen untuk mengkaji berbagai insiden keselamatan atlet.
Tim tersebut diusulkan melibatkan dokter spesialis kedokteran olahraga, dokter saraf, ahli biomekanika, pakar keselamatan pertandingan, ahli material matras, pelatih, atlet, serta pakar hukum olahraga.
Investigasi diharapkan tidak hanya melihat kronologi kejadian, tetapi juga mengkaji kualitas arena, kondisi matras, teknik pertandingan, keputusan wasit, hingga penanganan medis terhadap atlet.
Audit Matras dan Protokol Medis Jadi Prioritas
Selain investigasi, Krisna meminta adanya audit nasional terhadap matras yang digunakan dalam pertandingan resmi.
Pemeriksaan perlu mencakup ketebalan, kepadatan material, kemampuan menyerap benturan, kondisi sambungan, serta kelayakan penggunaan.
Ia juga menilai IPSI perlu menerapkan protokol khusus penanganan benturan kepala dan gegar otak atau Concussion Protocol.
Atlet yang diduga mengalami cedera kepala harus segera mendapatkan pemeriksaan medis dan tidak boleh dipaksakan melanjutkan pertandingan sebelum dinyatakan aman oleh tenaga kesehatan yang kompeten.
Wasit dan Penyelenggara Harus Bertanggung Jawab terhadap Standar Keselamatan
Krisna juga menyoroti kesiapan wasit dan tenaga medis dalam setiap pertandingan.
Menurutnya, setiap kejuaraan harus memiliki dokter pertandingan, ambulans, rumah sakit rujukan, serta prosedur penanganan keadaan darurat yang jelas.
Perlindungan asuransi bagi atlet juga dinilai penting agar risiko finansial akibat kecelakaan olahraga tidak sepenuhnya dibebankan kepada atlet maupun keluarganya.
Dorong Kerja Sama dengan Judo dan Gulat
Dalam upaya meningkatkan standar keselamatan, Krisna mengusulkan kerja sama teknis antara IPSI, Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI), dan Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI).
Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman mengenai teknik jatuhan, perlindungan kepala dan leher, pengendalian tubuh, serta pencegahan cedera akibat bantingan.
Ia menilai keselamatan atlet harus menjadi kepentingan bersama tanpa dibatasi ego organisasi maupun cabang olahraga.
Tujuh Tuntutan Reformasi kepada PB IPSI
Dalam opini tersebut, Krisna Bayu Olympian menyampaikan tujuh rekomendasi utama kepada PB IPSI:
- Membentuk tim investigasi independen keselamatan atlet nasional.
- Melakukan audit data cedera berat dan kematian atlet selama sepuluh tahun terakhir.
- Melaksanakan audit nasional terhadap matras pertandingan.
- Menerapkan sertifikasi kompetensi teknik jatuhan bagi atlet kategori tanding.
- Mewajibkan protokol penanganan gegar otak dan cedera kepala.
- Membangun kerja sama teknis dengan federasi judo dan gulat serta lembaga kedokteran olahraga.
- Menerbitkan laporan keselamatan atlet secara berkala dan transparan kepada publik.
Menuju Olimpiade, Keselamatan Atlet Jangan Dikesampingkan
Krisna menegaskan, cita-cita membawa pencak silat menuju Olimpiade harus disertai pembenahan organisasi, transparansi, integritas pertandingan, peningkatan kualitas wasit, serta standar keselamatan internasional.
Menurutnya, pencak silat harus berkembang menjadi olahraga yang tidak hanya membanggakan melalui prestasi, tetapi juga mampu memberikan perlindungan maksimal kepada para atletnya.
Ia berharap PB IPSI membuka ruang evaluasi dan menjadikan keselamatan atlet sebagai kebijakan utama organisasi.
“Medali bisa diperjuangkan kembali. Prestasi bisa dibangun kembali. Kejuaraan dapat diselenggarakan kembali. Tetapi nyawa manusia tidak dapat digantikan.”
SELAMATKAN ATLETNYA. BENAHI SISTEMNYA. JAGA MASA DEPAN PENCAK SILAT INDONESIA.
Penulis: Krisna Bayu Olympian
Catatan Redaksi: Berita ini mengangkat gagasan dan rekomendasi penulis. POJOKJAMBI.COM membuka ruang tanggapan dan hak jawab kepada PB IPSI serta pihak terkait untuk mewujudkan pemberitaan yang berimbang.











